Menjadi Orang Yang Normal
Dalam Menjalani kehidupan kebanyakan orang sering tidak mengetahui apa arti dan makna hidup yang dijalani. Banyak dari mereka yang tidak sadar akan betapa luar biasanya hidup jika dipahami serta diamalkan dengan ketentuan yang telah ditentukan. Manusia sering terjebak dalam ruang dan waktu sehingga lupa akan dirinya. Orang-orang yang sadar terhadap ruang dan waktu serta bisa membedakan antara dimensi ruang dan waktu yang satu dengan yang lain akan bias menjalani hidup ini dengan penuh rasa damai, tenang, dan mampu berinteraksi dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat. Rasa damai dan tenang yang dirasakan secara tidak langsung merupakan akibat dari perilaku manusia yang sadar akan ruang dan waktunya.
Ruang dan waktu seyogyanya bisa dipahami jika kita mengerti apa arti hidup ini sebenarnya. Dan kebermaknaan hidup manusia bisa didapat dari bagaimana cara orang itu berhubungan dengan Tuhannya dan sesama manusia. Kesadaran seseorang akan Tuhannya menjadikan manusia menjadi bermakna dalam menjalani hidup ini. Semua itu tergantung dari manusia itu sendiri bahwa kekuatan akan pikiran dan kesadaran yang dimiliki bisa menjadi suatu titik yang sangat penting yang menjadi kunci hidupnya untuk mencapai rasa tenang dan damai, baik dalam pikiran maupun di dalam hatinya.
Banyak orang yang salah mengartikan hidup ini karena tidak atau kurang mengerti akan apa sebenarnya yang ada dalam dirinya. Kunci dari diri seorang manusia terletak pada hati dan pikirannya. Kemampuan akan pikiran dan hatinya menerjemahkan hidup akan menentukan bagaimana hidup orang itu nantinya. Kesadaran yang dimiliki dan fakta atau pengalaman yang ada akan menjadi kunci sukses seseorang dalam menjalani hidupnya. Kekuatan pikiran dan hati dapat diterjemahkan sebagai kekuatan manusia dalam mengabstraksikan bumi yang bergerak dalam ruang dan waktu yang menghasilkan suatu titik. Sebuah titik menjadi garis, dan garis-garis tersebut bisa menjadi lingkaran, segitiga, kubus, balok, dan yang lainnya. Secara tidak langsung dari satu titik dapat menjadi sebuah bangun berdimensi dua atau pun berdimensi tiga.
Titik adalah potensi dan garis adalah fakta. Pikiran seseorang dapat membantu dirinya untuk menggali potensi yag dimilikinya dan pengalamannya merupakan fakta yang ada. Ternyata bahwa pikiran manusia itu merupakan setengah dari dunia dan setengah yang lainnya adalah fakta dan realita yang ada, misalnya gejala alam, alam semesta, masyarakat dan sebagainya. Melalui IPTEKS manusia bisa menggali potensi yang dimilikinya yang disertai dengan pengalaman yanga ada sehingga tercipta suatu konsep didalam pemikiran manusia. Pikiran manusia membuatnya menjadi dapat berpikir dalam berinteraksi dengan masyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat pun manusia harus bisa berinteraksi sebaik mungkin dengan cara menggunakan setengah dari duanianya yaitu pikirannya sehingga dapat berbaur dengan masyarakat dengan baik. Dalam kehidupan bernasyarakat kita dituntut untuk saling berhubungan satu sama lain, seperti berkomunikasi, saling membantu dan sebagainya. Jika seseorang tidak paham akan ruang dan waktu dalaam menggunakan pikirannya maka dia akan tersisih dalam bergaul dan tidak akaan diterima dalam masyarakat.
Berinteraksi membutuhkan suatu kecerdasan. Konsep yang hadir dalam pikiran manusia seperti kurva normal harus diinterpretasikan dengan baik sehingga nantinya kita bisa diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Jadilah orang-orang yang berada ditengah-tengah kurva normal dan berusaha tidak berada di kedua sis kurva tesebut. Berada di tengah-tengah kurva normal akan menjadikan manusia tenang dan damai dalam berinteraksi di masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan harus dihindari karena jika itu terjadi, maka manusia akan berada di kedua sisi kurva sehingga akan merasa tidak tenang dan gelisah dalam berinteraksi dengan masyarakat.
Menjadi manusia normal itu tidaklah sulit. Kita hanya harus mengikuti apa kebiasaan masyarakat di sekitar kita sehingga kita bisa diterima di tengah-tengah masyarakat. Kesulitan berinteraksi denga masyarakat yang dialami oleh individu tertentu disebabkab karena tidak bisa mengikuti kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Kebanyakan dari manusia itu nasih terjebak dalam mitos sehingga pikirannya tidak bisa berkembang. Orang=orang seperti ini perlu untuk diberi nasihat atau penjelasan sehingga bisa berinteraksi dengan baik. Dan nasihat itu lah yang kita sebut dengan logos. Hanyalah logos yang bisa mengalahkan mitos.
Kejadian-kejadian seperti di atas bisa dicontohkan dalam hal berikut. Misalnya saja dalam perkuliahan yang diberikan oleh Pak Marsigit. Salah satu adab dalam berfilsafat adalah sopan dan santun terhadap waktu. Mahasiswa yang telat ataupun tidak datang itu dikatakan tidak sopan terhadap waktu. Adab yang lain adalah dengan membaca referensi primer bacaan filsafaat dan referensi itu salah satunya adalah membaca elegy dan memberi komentar secara ikhlas. Banyak dari mahasiswa yang telah membaca dan memberi komentar terhadap elegi-elegi Bapak Marsigit, meskipun mungkin sebagian dari mahasiswa ada yang tidak ikhlas. Mahasiswa yang telah membaca dan memberikan komentar secara ikhlas termasuk orang-orang yang berada di tengah-tengah kurva normal. Dan mahasiswa yang tidak ikhlas dalam membaca dan memberi komentar berada di kedua sisi kurva normal. Orang-orang yang berada di kedua sis inilah yang membutuhkan suatu nasihat atau penjelasan, dan dalam hal ini penjelasan itu sendiri adalah filsafat. Mahasiswa yang tidak ikhlas bisa dilihat tanda-tandanya, seperti komentar yang terlalu sedikit dan komentar yang terlalu banyak. Mahasiswa yang membaca dan memberikan komentar ataupun tidak pernah memberi komentar bisa digambarkan dengan kurva normal condong ke kiri, dan mahasiswa yang memberikan komentar yang sangat banyak digambarkan dengan kurva normal condong ke kanan.
Pesan yang selalu disampaikan secara eksplisit oleh Pak Marsigit adalah bahwa belajar berfilsafat dengan memperhatikan adab-adabnya serta paham terhadap ruang dan waktu bisa menjadikan mahasiswa menjadi orang yang normal dan tidak terjebak dalam ruang dan waktu. Namun semua itu tergantung kita bagaimana kita memahami filsafat agar mencapai ketenangan jiwa dan menjadi orang yang normal sehingga bisa diterima dalam berinteraksi dengan orang lain, karena manusia adalah makhluk social yang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mempertahankan hidup. Seperti diibaratkan sebagai bilangan yang berdiri sendiri tidak akan mempunyai arti, namun jika dioperasikan dengan bilangan yang lain akan memiliki makna. Semua ilmu yang kita pelajari jika kita pahami memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan filsafat. Maka berfilsafatlah dengan baik agar kita menjadi orang yang normal yang senantiasa berinterkasi dengan orang lain dengan baik.
1 komentar:
Mitos bisa bersifat intensif dan ekstensif
Posting Komentar