Minggu, 04 Desember 2011

Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)

[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Hadits yang Ketiga

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.

Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]

Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]

Wallahu a’lam bish shawab.

(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)

CATATAN KAKI:

[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . -

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)

Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:

“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .

“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”

Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.

لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-

“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))

[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)

[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.

Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)

[4] (lihat no. 3)

[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.

Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)

Wallaahu a’lam.


sumber :http://ulamasunnah.wordpress.com

Sabtu, 20 Agustus 2011

10 Malam Terakhir Bulan Ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebagian kaum muslimin di akhir Ramadhan malah tersibukkan dengan hal-hal dunia. Dirinya lebih memikirkan pulang mudik, baju baru dan silaturahmi kepada kerabat. Contoh dari suri tauladan kita tidaklah demikian. Di akhir Ramadhan, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tersibukkan dengan ibadah, apalagi shalat malam.

Raih Lailatul Qadar

Selayaknya bagi setiap mukmin untuk terus semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9/191).

Kapan Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Tidak Perlu Mencari Tanda

Sebagian orang sibuk mencari tanda kapan lailatul qadar terjadi. Namun sebenarnya tanda tersebut tidak perlu dicari. Tugas kita di akhir Ramadhan, pokoknya terus perbanyak ibadah. Karena kalau sibuk mencari tanda malam tersebut, kita malah tidak akan memperbanyak ibadah. Walaupun memang ada tanda-tanda tertentu kala itu. Tanda tersebut di antaranya:

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18/361, shahih)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762)

Jika Engkau Dapati Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

”Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6/171, shahih)

Lebih Giat Ibadah di Akhir Ramadhan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.

‘Aisyah mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Menghidupkan Malam Penuh Kemuliaan

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam. Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, ia berarti telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 329). Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (‘Aunul Ma’bud, 4/176). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Jika seorang meraih lailatul qadar dengan i’tikaf, itu lebih bagus. Namun i’tikaf bukanlah syarat untuk dapati malam kemuliaan tersebut. Begitu pula bukanlah syarat mesti di masjid untuk dapati lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).

Semoga Allah beri taufik kepada kita sekalian untuk terus perbanyak ibadah di akhir-akhir Ramadhan dan moga kita juga termasuk hamba yang mendapatkan malam penuh kemuliaan, lailatul qadar. Wallahu waliyyut taufiq.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.




Sumber : http://muslim.or.id/ramadhan/semakin-semangat-ibadah-di-akhir-ramadhan.html

Senin, 20 Juni 2011

Refleksi Perkuliahan Terakhir Pak Marsigit

Belajar Filsafat
Berangkat dari obyek filsafat yaitu mempelajari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Dalam hidup ini kita mengenal sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Dalam kehidupan sehari-hari secara sadar atau tidak kita telah berfilsafat, karena apa yang telah kita ucapkan, kita lakukan setiap harinya adalah filsafat itu sendiri. Tapi banyak orang yang tidak suka dengan filsafat, padahal rasa tidak sukanya terhadap filsafat itu telah menunjukkan bahwa dirinya telah berfilsafat. Tapi sebelum kita membahas lebih jauh, apakah sebenarnya filsafat itu ?
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Dalam filsafat juga terdapat cabang-cabang ilmu filsafat yaitu ontology, epistimologi dan aksiologi. Ontology adalah pemikiran filsafat yang mempelajari realitas dunia. Epistimologi adalah bagaimana ilmu pengetahuan itu didapat dan dikatakan benar. Dan aksiologi adalah cabang filsafat yang berisi tata nilai yang ada di masyarakat. Dalam filsafat sangat ditekankan untuk mengetahui cabang-cabang filsafat tersebut karena akan sangat membantu dalam belajar berpikir dan mengambil keputusan.
Nah, sangat ditekankan juga dalam belajar filsafat untuk berpikir secara mendalam dan analitik, karena bahasa yang digunakan dalam filsafat bukanlah bahasa sehari-hari, melainkan bahasa analog. Oleh karena itu, banyak orang yang beranggapan bahwa mempelajari filsafat bisa membuat orang menjadi stress, bahkan menjadi gila. Kemungkinan itu ada, tapi jika mempelajari filsafat dengan benar maka hal itu tidak akan terjadi. Mempelajari filsafat tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu referensi saja. Referensi tidak hanya berbentuk materi, namun terdapat banyak referensi yang bentuknya seperti kata-kata atau tingkah laku orang lain. Mempelajari filsafat berarti telah mempelajari semua cabang ilmu yang ada di dunia ini. Sebagian orang yang telah mempelajari filsafat dengan benar akan dengan mudah menghadapi permasalahan sehari-hari, karena dalam belajar filsafat itu melatih otak dalam berpikir dan menggunakan logika berpikir sehingga dapat meminimalisir resiko yang akan terjadi.
Secara harfiah arti filsafat adalah pencinta kebijaksanaan. Orang-orang yang tekun belajar filsafat sangat mungkin untuk menjadi orang yang bijaksana, berpikir kritis, dan rasional. Karena dalam kesehariannya ia berfilsafat. Salah satu contoh dosen Pendidikan Matematika UNY Pak Marsigit dalam kesehariannya sebagai dosen yang mengampu mata pelajaran filsafat, dalam hal mengajar mahasiswa beliau menekankan bahwa belajar filsafat itu tidak harus di dalam kelas ataupun pada saat perkuliahan, tetapi harus juga di luar itu, sehingga setiap hari mahasiswa kuliah filsafat, tetapi dengan membaca elegi-elegi filsafat yang ada di blog beliau. Dalam elegy pun bahasa yang digunakan adalah bahasa analog, sehingga harus memerlukan pemikiran yang mendalam untuk memahaminya. Tapi dari semua itu mahasiswa memperoleh pengetahuan yang luar biasa banyak, karena dalam blog tersebut tersimpan banyak hal tentang belajar filsafat secara ikhlas. Metode dan kebijaksanaan beliau dalam mengajar filsafat menurut saya adalah tepat, karena selain belajar filsafat secara langsung, mahasiswa juga memperoleh ilmu rohani yang tidak ditekankan dalam mata kuliah yang lain. Itulah salah satu contoh orang yang yang tekun dalam filsafat, dan karena mahasiswa mempelajari pemikiran Pak Marsigit yang ada dalam blog beliau, maka beliau merupakan salah satu filsuf bagi mahasiswa dan orang-orang yang belajar kepada beliau.
Sebenarnya sangat mudah mempelajari filsafat jika, karena akan melatih cara berpikir seseorang, seperti kata Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy untuk melengkapi pengertian kita tentang “filsafat”:
* Filsafat adalah berpikir secara kritis.
* Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.
* Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut.
* Filsafat adalah berpikir secara rasional.
* Filsafat harus bersifat komprehensif.
Oleh sebab itu, siapa yang tidak ingin akan 5 hal di atas. Memperoleh pemikiran yang demikian sangat diinginkan setiap orang, karena kelima cara berpikir tersebut telah mengajarkan kepada orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan menjadi orang yang sukses. Namun, dari itu semua kita haruslah teliti dan banyak bertanya atau mencari referensi dalam mempelajari filsafat, karena jika dalam proses belajar filsafat metode yang digunakan tidak benar, maka akan menjadi berbahaya. Oleh karena itu dalam belajar filsafat disarankan agar lebih sering meminta ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Referensi :
http://anank.wordpress.com/2007/02/02/terminologi-filsafat/
http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat
http://www.anneahira.com/cabang-filsafat.htm
http://powermathematics.blogspot.com/

Rabu, 25 Mei 2011

SUMBU-SUMBU FILSAFAT YANG TAK TERBATAS

Sumber : Kuliah Pak Marsigit


Dalam ilmu filsafat, obyek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Karena obyek filsafat itu adalah yang ada dan mungkin ada sehingga dalam filsafat kita belajar sesuatu yang tak terbatas. Dalam filsafat kita mempelajari banyak hal di dunia ini yang bisa dilihat dari sisi lain. Ilmu yang tak terbatas yang ada dalam filsafat itu bisa dibagi dalam beberapa dimensi, yaitu dimensi formal, material, normatif, dan spiritual. Dalam filsafat, kita dituntut untuk berpikir ekstensif dan intensif, yaitu berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Karena dalam filsafat itu menggunakan bahasa analogi yang untuk memahaminya diperlukan suatu pemahaman yang lebih mendalam.
Hal yang diuraikan di atas dapat kita gambarkan sebagai sebuah sumbu yang berada dalam lingkaran filsafat yang mempelajari berbagai macam ilmu. Dalam lingkaran filsafat itu digambarkan hal yang pertama dipelajari dalam filsafat bahwa terdapat ontology, aksiologi, dan epistimologi. Dari ketiga hal tersebut dapat dibuat sumbu-sumbu filsafat yang tak terbatas. Sumbu ontology misalnya, terdapat di dalamnya tentang berpikir intensif dan ekstensif. Sumbu aksiologi terdapat di dalamnya hal yang baik dan yang tidak baik, yang etis dan tidak etis. Sumbu epistimologi terdiri atas hal-hal yang bersumber dari pembenaran dan bersumber dari kesalahan.
Ketiga sumbu-sumbu filsafat tersebut bisa dibuat banyak sumbu yang tak terbatas. Misalnya dari sumbu aksiologi kita mengambil hal yang baik dan hal yang tidak baik dimana kedua hal tersebut bertentangan. Dari hal yang baik dan yang tidak baik itu muncul sumbu-sumbu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya sumbu kebenaran dan kejahatan, sumbu senang dan susah, sumbu kawan dan lawan, dan sebagainya. Sumbu-sumbu tersebut bisa kita saksikan langsung dalam kehidupan sehari-hari dan mungkin kita sering mengalami sumbu-sumbu yang bertentangan tersebut. Banyak hal yang bisa dijadikan sumbu di dalam kehidupan ini, seperti sumbu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Sumbu keberuntungan dan ketidakberuntungan. Dan pasti dari setiap sumbu yang telah diuraikan kita pernah mengalaminya.
Dalam pendidikan pun kita sering mendengar apa yang disebut dengan ilmu (logos) dan mitos. Kedua hal ini berada di dalam satu sumbu yang masing-masing berada di ujung yang berbeda. Dalam proses belajar mengajar di sekolah pun banyak sumbu yang bisa dibuat. Misalnya sumbu metode mengajar konvensional dan metode modern, penilaian obyektif dan subyektif, mencontek dan tidak mencontek, belajar mandiri dan belajar kelompok, dan yang lainnya. kedua hal-hal yang bertentangan tersebut berada di setiap ujung yang berbeda-beda. Dan dari setiap sumbu itu dibuat sumbu lagi sehingga akan memperoleh sumbu-sumbu yang tak terbatas.
Dalam matematika apalagi, kita sering menjumpai hal-hal yang bertentangan dan sebenarnya semua apa yang telah diuraikan di atas tersebut dapat digambarkan melalui diagram yang ada dalam matematika. Kita mengenal sumbu X dan Sumbu Y jika berada dalam dimensi dua. Jika kita berada di dimensi tiga, maka akan ada sumbu X, sumbu Y, dan sumbu Z. Dalam sumbu X terdapat x1, x2, x3,…..xn. dan dalam sumbu Y terdapat y1, y2, y3, …. yn, begitu juga dengan sumbu Z.
Sebenarnya maksud dari apa yang telah diuraikan ini adalah bahwa antara filsafat, pendidikan, filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan matematika itu memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dan semua itu secara tidak langsung telah membangun dunia. Dan sumbu-sumbu yang berada di masing-masing dimensi ilmu tersebut telah berperan penting di dalamnya dan sumbu-sumbu tersebut tak terbatas.
Kemudian bagaimana seharusnya kita menggunakan ilmu tersebut agar kita mengerti bagaimana kita di dalam kehidupan sehari-hari bergaul dengan masyarakat mengetahui sumbu-sumbu tersebut supaya tercipta suatu kehidupan yang nyaman, tentram, dan saling menghargai dan menghormati antar sesama.

Rabu, 27 April 2011

Filsafat Matematika dan Filsafat Pendidikan Matematika (Revolusi Pendidikan)

KULIAH PAK MARSIGIT
21 APRIL 2011

Matematika adalah salah satu cabang ilmu yang dipelajari di seluruh dunia. Matematika juga digunakan sebagai alat penting di berbagai bidang ilmu. Tetapi bagaimanakah matematika itu sebenarnya mulai muncul dan dijadikan sebagai ilmu ? Berawal pada zaman Yunani Kuno, mulai penggunaan abstraksi dan penalaran logika, matematika berkembang dari pencacashan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Konsep dari abstraksi maupun penalaran logika tersebut merupakan suatu bukti dan bukti tersebut dijadikan sebagai pondamen dalam berpikir sehingga tercipta suatu paham pondalisme dan intuisisme. Pondalisme dan intuisisme menjadi kunci dan merupakan awal mula munculnya matematika.
Bukti-bukti yang timbul disebabkan adanya abstraksi atau idealisasi yang dilakukan oleh manusia. Bukti-bukti tersebut ada yang bersifat tetap yang dianut oleh Permenides dan bukti yang berubah oleh Heraclitos. Sebagaimana bukti-bukti yang tetap itu telah menimbulkan suatu paham pondalisme dan intuisisme sehingga memunculkan suatu cabang ilmu baru yaitu matematika. Dlam perkembangna zaman berikutnya orang-orang mulai berpikir secara ekstensif dan intensif sehungga tercipta suatu pemikiran yang menyebabkan munculnya filsafat matematika.
Filsafat matematika adalah filsafat yang mempelajari pikiran-pikiran para filsuf Matematika. Bidang filsafat matematika termasuk episimologi matematika, ontologi matematika, dan aksiologi matematika. Epistimologi matematika adalah teori pengetahuan yang sasaran penelaahannya ialah pengetahuan matematik. Epistomologi sebagai salah satu bagian dari filsafat merupakan pemikiran reflektif terhadap pelbagai segi dari pengetahuan seperti kemungkinan, asal-mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reliabilitas sampai kebenaran pengetahuan. Dengan demikian landasan matematik merupakan pokok soal utama dari epistemologi matematik.
Ontologi matematika pada akhir-akhir ini dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada dalam matematika. Hubungan antara pandangan ontologis (atau metafisis) dengan matematika cukup banyak menimbulkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh sebagian filsuf matematika. Sedangkan aksiologi matematika terdiri dari etika yang membahas aspek kebenaran, tanggungjawab dan peran matematika dalam kehidupan, dan estetika yang membahas mengenai keindahan matematika dan implikasinya pada kehidupan yang bisa mempengaruhi aspek-aspek lain terutama seni dan budaya dalam kehidupan. Aksiologi matematika sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan umat manusia di jagat raya ini. Segala sesuatu ilmu di dunia ini tidak bisa lepas dari pengaruh matematika.
Dari uraian diatas telah jelas semua dari bidang filsafat matematika hanya berusaha menjadikan matematika berkembang tanpa memasukkan suatu ilmu tersendiri yang akan mempelajari bagaimana orang belajar ilmu matematika itu. Tokoh yang menganut aliran ini yang sering disebut bapak matematika murni adalah Hilbert. Matematika murni iut sendiri bersifat pondamentalis, formalis, aksiomalis, rigor/apodiktif, konsisten, tunggal, pasti, dan yang terakhir bersifat absolut. Paham atau aliran filsafat murni ini terbebas dari ruang dan waktu sehingga orang-orang yang menganut aliran ini lebih menekankan bagaimana matematika itu menjadi cabang ilmu yang popular. Berbagai perguruan tinggi di Indonesia secara tidak langsung telah menganut filsafat ini. Beberapa diantaranya yaitu UGM, ITB, IPB, UI, dan yang lainnya.
Bertentangan dengan hal di atas, akhir-akhir ini muncul suatu filsafat yang lebih mementingkan bagaimana cara mendidik dan mengajarkan ilmu matematika kepada orang lain sehingga orang yang belajar matematika tidak hanya menerima mitos saja. Filsafat itu sendiri adalah Filsafat Pendidikan Matematika. Filsafat yang terikat oleh ruang dan waktu ini bersifat kontradiktif, relative, plural, korespondensi, dan juga lebih fleksible. Orang-orang yang manganut aliran filsafat pendidikan matematika ini menekankan pada apa yang disebut sebagai matematika sekolah atau School Mathematic. Kebanyakan yang manganut aliran filsafat ini adalah orang-orang yang perduli terhadap pendidikan, terutama di Indonesia. Para pemerhati pendidikan dengan gencar-gencarnya mempromosikan sosio-konstruktivisme. Perguruan tinggi dan instansi yang mendukung hal ini adalah UNY, UPI, IKIP, Sekolah-sekolah dan yang lainnya.
Permasalahan yang sedang terjadi sekarang ini di Indonesia adalah bagaimana pertentangan antara filsafat matematika dengan filsafat pendidikan matematika. Misalnya dalam hal penyelenggaraan Ujian Nasional. Filsafat pendidikan matematika berpendapat bahwa ujian nasional harus dihilangkan, karena mereka berargumen bahwa nasib siswa yang telah susah payah berusaha belajar matematika hanya ditentukan lewat tes kognitif saja dan itu pun hanya dalam waktu beberapa jam saja, padahal mereka telah belajar di sekolah selama beberapa tahun. Ujian Nasional sendiri dibuat oleh orang-orang matematika murni yang berada di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Dan orang-orang pendidikan hanya sedikit yang berada di sana sehingga perjuangan orang-orang pendidikan yang ingin melihat siswa-siswa senang belajar akhirnya kandas. Dan ujian nasional pun menjadi momok dari tahun ke tahun sehingga membuat siswa menjadi korban ujian nasional. Dan banyak siswa yang menyerah dan mencari jalan pintas hanya untuk bisa lulus ujian sekolah. Dan bagaimanakah sebenarnya matematika itu seharusnya diajarkan di sekolah agar menimbulkan rasa senang terhadap siswa yang belajar ?
Matematika sekolah mengajarkan kepada siswa bagaimana cara belajar matematika yang tepat. Berbagai hal atau metode baru telah dikembangkan sebagai cara dalam belajar matematika. Salah satu institute yang mengajarkan bagaimana cara yang sebenarnya dalam belajar matematika adalah Instutut Pengembangan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (IP-PMRI). PMRI mengajarkan belajar matematika meupakan proses belajar yang bermakna dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Siswa diajarkan berpikir realistik dan mengggabungkan pengalaman sehari-hari mereka dengan ide matematika yang telah atau sedang dipelajari.
Sebagai pemerhati pendidikan apakah kita pernah menanyakan diri kita sendiri bahwa di pihak manakah sebenarnya kita berada ? Mari kita sama-sama renungkan dan berusaha agar kita menjadi salah satu pejuang pendidikan yang ingin melihat pendidikan di Indonesia ini maju dan bias bersaing di level internasional.

Selasa, 19 April 2011

KULIAH PAK MARSIGIT

Menjadi Orang Yang Normal
Dalam Menjalani kehidupan kebanyakan orang sering tidak mengetahui apa arti dan makna hidup yang dijalani. Banyak dari mereka yang tidak sadar akan betapa luar biasanya hidup jika dipahami serta diamalkan dengan ketentuan yang telah ditentukan. Manusia sering terjebak dalam ruang dan waktu sehingga lupa akan dirinya. Orang-orang yang sadar terhadap ruang dan waktu serta bisa membedakan antara dimensi ruang dan waktu yang satu dengan yang lain akan bias menjalani hidup ini dengan penuh rasa damai, tenang, dan mampu berinteraksi dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat. Rasa damai dan tenang yang dirasakan secara tidak langsung merupakan akibat dari perilaku manusia yang sadar akan ruang dan waktunya.
Ruang dan waktu seyogyanya bisa dipahami jika kita mengerti apa arti hidup ini sebenarnya. Dan kebermaknaan hidup manusia bisa didapat dari bagaimana cara orang itu berhubungan dengan Tuhannya dan sesama manusia. Kesadaran seseorang akan Tuhannya menjadikan manusia menjadi bermakna dalam menjalani hidup ini. Semua itu tergantung dari manusia itu sendiri bahwa kekuatan akan pikiran dan kesadaran yang dimiliki bisa menjadi suatu titik yang sangat penting yang menjadi kunci hidupnya untuk mencapai rasa tenang dan damai, baik dalam pikiran maupun di dalam hatinya.
Banyak orang yang salah mengartikan hidup ini karena tidak atau kurang mengerti akan apa sebenarnya yang ada dalam dirinya. Kunci dari diri seorang manusia terletak pada hati dan pikirannya. Kemampuan akan pikiran dan hatinya menerjemahkan hidup akan menentukan bagaimana hidup orang itu nantinya. Kesadaran yang dimiliki dan fakta atau pengalaman yang ada akan menjadi kunci sukses seseorang dalam menjalani hidupnya. Kekuatan pikiran dan hati dapat diterjemahkan sebagai kekuatan manusia dalam mengabstraksikan bumi yang bergerak dalam ruang dan waktu yang menghasilkan suatu titik. Sebuah titik menjadi garis, dan garis-garis tersebut bisa menjadi lingkaran, segitiga, kubus, balok, dan yang lainnya. Secara tidak langsung dari satu titik dapat menjadi sebuah bangun berdimensi dua atau pun berdimensi tiga.
Titik adalah potensi dan garis adalah fakta. Pikiran seseorang dapat membantu dirinya untuk menggali potensi yag dimilikinya dan pengalamannya merupakan fakta yang ada. Ternyata bahwa pikiran manusia itu merupakan setengah dari dunia dan setengah yang lainnya adalah fakta dan realita yang ada, misalnya gejala alam, alam semesta, masyarakat dan sebagainya. Melalui IPTEKS manusia bisa menggali potensi yang dimilikinya yang disertai dengan pengalaman yanga ada sehingga tercipta suatu konsep didalam pemikiran manusia. Pikiran manusia membuatnya menjadi dapat berpikir dalam berinteraksi dengan masyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat pun manusia harus bisa berinteraksi sebaik mungkin dengan cara menggunakan setengah dari duanianya yaitu pikirannya sehingga dapat berbaur dengan masyarakat dengan baik. Dalam kehidupan bernasyarakat kita dituntut untuk saling berhubungan satu sama lain, seperti berkomunikasi, saling membantu dan sebagainya. Jika seseorang tidak paham akan ruang dan waktu dalaam menggunakan pikirannya maka dia akan tersisih dalam bergaul dan tidak akaan diterima dalam masyarakat.
Berinteraksi membutuhkan suatu kecerdasan. Konsep yang hadir dalam pikiran manusia seperti kurva normal harus diinterpretasikan dengan baik sehingga nantinya kita bisa diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Jadilah orang-orang yang berada ditengah-tengah kurva normal dan berusaha tidak berada di kedua sis kurva tesebut. Berada di tengah-tengah kurva normal akan menjadikan manusia tenang dan damai dalam berinteraksi di masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan harus dihindari karena jika itu terjadi, maka manusia akan berada di kedua sisi kurva sehingga akan merasa tidak tenang dan gelisah dalam berinteraksi dengan masyarakat.
Menjadi manusia normal itu tidaklah sulit. Kita hanya harus mengikuti apa kebiasaan masyarakat di sekitar kita sehingga kita bisa diterima di tengah-tengah masyarakat. Kesulitan berinteraksi denga masyarakat yang dialami oleh individu tertentu disebabkab karena tidak bisa mengikuti kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Kebanyakan dari manusia itu nasih terjebak dalam mitos sehingga pikirannya tidak bisa berkembang. Orang=orang seperti ini perlu untuk diberi nasihat atau penjelasan sehingga bisa berinteraksi dengan baik. Dan nasihat itu lah yang kita sebut dengan logos. Hanyalah logos yang bisa mengalahkan mitos.
Kejadian-kejadian seperti di atas bisa dicontohkan dalam hal berikut. Misalnya saja dalam perkuliahan yang diberikan oleh Pak Marsigit. Salah satu adab dalam berfilsafat adalah sopan dan santun terhadap waktu. Mahasiswa yang telat ataupun tidak datang itu dikatakan tidak sopan terhadap waktu. Adab yang lain adalah dengan membaca referensi primer bacaan filsafaat dan referensi itu salah satunya adalah membaca elegy dan memberi komentar secara ikhlas. Banyak dari mahasiswa yang telah membaca dan memberi komentar terhadap elegi-elegi Bapak Marsigit, meskipun mungkin sebagian dari mahasiswa ada yang tidak ikhlas. Mahasiswa yang telah membaca dan memberikan komentar secara ikhlas termasuk orang-orang yang berada di tengah-tengah kurva normal. Dan mahasiswa yang tidak ikhlas dalam membaca dan memberi komentar berada di kedua sisi kurva normal. Orang-orang yang berada di kedua sis inilah yang membutuhkan suatu nasihat atau penjelasan, dan dalam hal ini penjelasan itu sendiri adalah filsafat. Mahasiswa yang tidak ikhlas bisa dilihat tanda-tandanya, seperti komentar yang terlalu sedikit dan komentar yang terlalu banyak. Mahasiswa yang membaca dan memberikan komentar ataupun tidak pernah memberi komentar bisa digambarkan dengan kurva normal condong ke kiri, dan mahasiswa yang memberikan komentar yang sangat banyak digambarkan dengan kurva normal condong ke kanan.
Pesan yang selalu disampaikan secara eksplisit oleh Pak Marsigit adalah bahwa belajar berfilsafat dengan memperhatikan adab-adabnya serta paham terhadap ruang dan waktu bisa menjadikan mahasiswa menjadi orang yang normal dan tidak terjebak dalam ruang dan waktu. Namun semua itu tergantung kita bagaimana kita memahami filsafat agar mencapai ketenangan jiwa dan menjadi orang yang normal sehingga bisa diterima dalam berinteraksi dengan orang lain, karena manusia adalah makhluk social yang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk mempertahankan hidup. Seperti diibaratkan sebagai bilangan yang berdiri sendiri tidak akan mempunyai arti, namun jika dioperasikan dengan bilangan yang lain akan memiliki makna. Semua ilmu yang kita pelajari jika kita pahami memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan filsafat. Maka berfilsafatlah dengan baik agar kita menjadi orang yang normal yang senantiasa berinterkasi dengan orang lain dengan baik.