Sumber : Kuliah Pak Marsigit
Dalam ilmu filsafat, obyek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Karena obyek filsafat itu adalah yang ada dan mungkin ada sehingga dalam filsafat kita belajar sesuatu yang tak terbatas. Dalam filsafat kita mempelajari banyak hal di dunia ini yang bisa dilihat dari sisi lain. Ilmu yang tak terbatas yang ada dalam filsafat itu bisa dibagi dalam beberapa dimensi, yaitu dimensi formal, material, normatif, dan spiritual. Dalam filsafat, kita dituntut untuk berpikir ekstensif dan intensif, yaitu berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Karena dalam filsafat itu menggunakan bahasa analogi yang untuk memahaminya diperlukan suatu pemahaman yang lebih mendalam.
Hal yang diuraikan di atas dapat kita gambarkan sebagai sebuah sumbu yang berada dalam lingkaran filsafat yang mempelajari berbagai macam ilmu. Dalam lingkaran filsafat itu digambarkan hal yang pertama dipelajari dalam filsafat bahwa terdapat ontology, aksiologi, dan epistimologi. Dari ketiga hal tersebut dapat dibuat sumbu-sumbu filsafat yang tak terbatas. Sumbu ontology misalnya, terdapat di dalamnya tentang berpikir intensif dan ekstensif. Sumbu aksiologi terdapat di dalamnya hal yang baik dan yang tidak baik, yang etis dan tidak etis. Sumbu epistimologi terdiri atas hal-hal yang bersumber dari pembenaran dan bersumber dari kesalahan.
Ketiga sumbu-sumbu filsafat tersebut bisa dibuat banyak sumbu yang tak terbatas. Misalnya dari sumbu aksiologi kita mengambil hal yang baik dan hal yang tidak baik dimana kedua hal tersebut bertentangan. Dari hal yang baik dan yang tidak baik itu muncul sumbu-sumbu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya sumbu kebenaran dan kejahatan, sumbu senang dan susah, sumbu kawan dan lawan, dan sebagainya. Sumbu-sumbu tersebut bisa kita saksikan langsung dalam kehidupan sehari-hari dan mungkin kita sering mengalami sumbu-sumbu yang bertentangan tersebut. Banyak hal yang bisa dijadikan sumbu di dalam kehidupan ini, seperti sumbu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Sumbu keberuntungan dan ketidakberuntungan. Dan pasti dari setiap sumbu yang telah diuraikan kita pernah mengalaminya.
Dalam pendidikan pun kita sering mendengar apa yang disebut dengan ilmu (logos) dan mitos. Kedua hal ini berada di dalam satu sumbu yang masing-masing berada di ujung yang berbeda. Dalam proses belajar mengajar di sekolah pun banyak sumbu yang bisa dibuat. Misalnya sumbu metode mengajar konvensional dan metode modern, penilaian obyektif dan subyektif, mencontek dan tidak mencontek, belajar mandiri dan belajar kelompok, dan yang lainnya. kedua hal-hal yang bertentangan tersebut berada di setiap ujung yang berbeda-beda. Dan dari setiap sumbu itu dibuat sumbu lagi sehingga akan memperoleh sumbu-sumbu yang tak terbatas.
Dalam matematika apalagi, kita sering menjumpai hal-hal yang bertentangan dan sebenarnya semua apa yang telah diuraikan di atas tersebut dapat digambarkan melalui diagram yang ada dalam matematika. Kita mengenal sumbu X dan Sumbu Y jika berada dalam dimensi dua. Jika kita berada di dimensi tiga, maka akan ada sumbu X, sumbu Y, dan sumbu Z. Dalam sumbu X terdapat x1, x2, x3,…..xn. dan dalam sumbu Y terdapat y1, y2, y3, …. yn, begitu juga dengan sumbu Z.
Sebenarnya maksud dari apa yang telah diuraikan ini adalah bahwa antara filsafat, pendidikan, filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan matematika itu memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dan semua itu secara tidak langsung telah membangun dunia. Dan sumbu-sumbu yang berada di masing-masing dimensi ilmu tersebut telah berperan penting di dalamnya dan sumbu-sumbu tersebut tak terbatas.
Kemudian bagaimana seharusnya kita menggunakan ilmu tersebut agar kita mengerti bagaimana kita di dalam kehidupan sehari-hari bergaul dengan masyarakat mengetahui sumbu-sumbu tersebut supaya tercipta suatu kehidupan yang nyaman, tentram, dan saling menghargai dan menghormati antar sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar